19
Feb
10

Museum daerah bangkalan (cakraningrat)

Membedah Koleksi Museum Cakraningrat (bag. 1)
Selasa, 25 Maret 2008

BANGKALAN, Pulau – Madura. Guna menyambung ingatan masa lalu dengan masa kini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan membangun Museum Cakraningrat yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta. Banyak benda-benda sejarah yang ditampung di museum tersebut, diantaranya kitab tulis tangan karya ulama besar Bangkalan Syaichona KH Moh. Cholil bin Abdul Latif atau terkenal dengan sebutan Syaichona Cholil. Museum Cakraningrat sangat mudah dijangkau oleh masyarakat umum, selain letaknya sangat strategis yakni bersebelahan dengan kantor DPRD Bangkalan, semua kendaraan tujuan kota Bangkalaha khususnya dari Kamal pasti akan melewati depan Museum yang baru seminggu diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo. Memasuki pintu gerbang komplek museum, nuansa masa lalu sudah mulai nampak dan beberapa peninggalan sejarah ditata sedemikian rupa untuk menambah daya tarik bagi para pengunjung. Demikian juga saat masuk ke dalam meseum, ratusan koleksi benda-benda sejarah yang berkaitan langsung dengan cikal bakal Bangkalan menghiasi seluruh ruang dan sudut museum. Para pengunjung dijamin kerasan untuk menikmati isi museum, selain akan terbang ke ingatan masa lalu, suasana nyaman juga ditopang dengan ruangan yang dipasang AC. Dari ratusan koleksi Museum Cakraningrat, ada beberapa benda yang mempunyai daya tarik sendiri khususnya bagi pengunjung yang datang yakni kitab tulis tangan karya ulama besar Bangkalan, Syaichona KH Moh. Cholil bin Abdul Latif atau terkenal dengan sebutan Syaichona Cholil. Kumpulan karya tulis tangan ulama yang lahir pada 11 Jamadil Akhir 1235 Hijrah atau 27 Januari 1820 Masehi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan sering kali diamati secara teliti oleh para pengunjung. Bahkan, sekelas Gubernur Jatim, Imam Utomo saat meresmikan gedung tersebut, sempat tertegun lama melihat keindahan tulisan arab tertuang dalam kertas tua yang sudah berubah menjadi warna cokelat. “Warga yang berkunjung juga banyak yang melihat dengan seksama kitab-kitab tersebut. Sebagian ada yang ingin menyentuh langsung, namun tidak kami izinkan karena aturannya hanya boleh dilihat,” ujar Hadi, salah satu petugas Museum Cakraningrat. Karya tulis tangan Syaichona Kholil sendiri terletak di sisi pojok kanan atau sebelah selatan museum, terbungkus rapi oleh etalase dengan kaca yang sangat kinclong. Untuk jenisnya bermacam-macam mulai dari penggalan beberapa ayat suci Al-Quran, Asmaul Husna serta Hadad. Karya tulis tersebut, oleh pengelola Museum Cakraningrat disajikan dalam dua bentuk yakni berupa naskah yang orisinil dengan kertas yang terlihat sudah tua berwarna cokelat, serta naskah turunan yang sudah tersaji dalam bentuk foto copi, kertasnya warna putih dengan sampul kombinasi warna hijau. Bagi pengunjung yang datang dan melihat karya tulis tangan Syaichona Cholil, sebagian besar mengaku terkesima melihat lafal dan gaya penulisan arab yang dinilai memiliki makna dan seni tersendiri. “Tulisan beliau (Syaichona Cholil) terlihat lembut, penuh makna dan enak dipandang, berbeda degan tulisan arab yang saya lihat di beberapa tempat,” ujar warga kelurahan Pangeranan Bangkalan, Aditya Roos, ditemui saat berkunjung ke Museum Cakraningrat, beberapa waktu lalu. Aditya berharap, pihak pengelola museum tidak hanya menampilkan karya tulis tangan Syaichona Cholil saja, kalau perlu beberapa peninggalan yang lain seperti kitab-kitab klasik juga dipamerkan sehingga bisa menambah koleksi Museum Cakraningrat. Perlu diketahui, lembaran sejarah mencatat bahwa figur Syaichona Cholil merupakan ulama besar yang merupakan guru dari KH Hasyim Asyhari asal Jombang, kakek dari mantan Presiden RI, KH. Abdurrahman Wahid. Dalam buku yang ditulis Mujammil Qomar, “NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam”, dilukiskan bahwa peran Syaichona Cholil merupakan penentu dari berdirinya organisasi terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU). Sementara KH Hasyim Asyhari sendiri dikatakan sebagai pemegang kunci dan sekaligus pemimpin pertama Nahdlatul Ulama. Masih menurut Mujammil, selain memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendirian NU yaitu sebagai penentu berdirinya, masih ada satu peran penting lagi yang telah dimainkan oleh Syaichona Cholil Bangkalan yaitu peran sebagai bapak spiritual bagi warga NU. Syaichona Cholil layak disebut sebagai bapak spiritual NU karena ulama asal Bangkalan ini sangat besar sekali andilnya dalam menumbuhkan tradisi tarekat, konsep kewalian dan haul (peringatan tahunan hari kematian wali atau ulama). Jadi, sangat masuk akal ketika karya tulis tangan beliau mempunyai daya tarik sendiri. (ich)

About these ads

1 Response to “Museum daerah bangkalan (cakraningrat)”


  1. 1 akhmad sururi
    October 22, 2010 at 2:14 am

    bagus kami sepakat museum bangkalan akan jadi icon kota


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


hiiiii……..

welcome to the Dairiz World......^^ all about interior, web, and graphic design you can see here....

categories

click this flag!!!!

to change this blog's to international language

calendar

change link

langganan artikel blog ini

guest status

  • 68,789 viewer

ym

sudah sholat belum?

lets comment or chat with me..


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.